Tampilkan postingan dengan label Ven Thubten Chodron. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ven Thubten Chodron. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2012

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 16 - Pancasila Buddhis



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


PANCASILA BUDDHIS
- Sila Pertama -
Hormat pada Kehidupan:
Tidak Membunuh; Melindungi
Saya menjalankan aturan praktik ini untuk menghindari pembunuhan (sehingga saya akan mempraktikkan welas asih dengan melindungi dan memberi manfaat pada semua kehidupan).
Menyadari penderitaan disebabkan oleh penghancuran kehidupan, saya menjalankan sila menumbuhkan welas asih dan melindungi manusia, hewan, dan kehidupan tumbuh-tumbuhan (melindungi alam). Saya bertekad untuk tidak membunuh atau melukai, tidak membiarkan orang lain melakukannya, dan tidak mendukung kegiatan apapun yang membahayakan fisik atau mental.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 15 - Vajrayana



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)

VAJRAYANA
Apa itu Vajrayana?
Vajrayana, yang juga disebut Tantrayana, adalah sub-bagian dari Mahayana. Vajrayana didasarkan pada baik itu praktik Theravada maupun Mahayana secara umum. Sebelum memasuki Vajrayana, kita harus benar-benar terlatih dalam pikiran yaitu pembebasan yang muncul dari roda samsara (penolakan terhadap samsara), hati yang didedikasikan untuk mencapai pencerahan demi kebaikan semua mahluk (bodhicitta), dan kemudian kebijaksanaan merealisasi kekosongan dari keberadaan yang berdiri sendiri. Kemudian kita mengambil inisiasi dari guru tantra yang berkualitas dan melindungi sumpah dan komitmen tantra yang diterima waktu inisiasi. Atas dasar ini, kita dapat menerima intruksi dan menjalankan praktik meditasi di dalam vajrayana.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 14 - Ketanpaakuan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KETANPAAKUAN
Apakah "ketanpaakuan" dan "kekosongan" artinya sama?
Secara umum, iya.
Apa manfaat dari merealisasi ketanpaakuan atau kekosongan?
Kita kemudian dapat membersihkan batin kita dari semua kekotoran dan kegelapan. Saat ini, batin kita dikaburkan oleh ketidaktahuan: cara kita memahami dan "memegang erat" diri kita sendiri dan fenomena lain sebagai sesuatu yang ada bukanlah cara bahwa mereka benar-benar ada. Ini serupa dengan orang yang selalu memakai kaca mata hitam sepanjang waktu. Semua yang ia lihat gelap dan berpikir bahwa demikianlah sebenarnya. Nyatanya, bila ia melepaskan kaca mata hitam itu, ia akan menemukan kenyataan yang berbeda.
Analogi lain dari ketidaktahuan kita adalah seseorang yang menonton film dan berpikir orang di layar adalah nyata. Ia menjadi sangat emosional dan terlibat dalam nasib karakter itu, dan terikat pada sang pahlawan, ia memusuhi karakter yang mengganggu pahlawan itu. Orang itu mungkin menangis, ngeri, atau melompat dari tempat duduknya ketika sang pahlawan dilukai. Nyatanya, hal itu tidak perlu sama sekali, karena tidak ada orang yang nyata dalam layar. Itu hanyalah proyeksi yang tergantung dari penyebab dan kondisi seperti film, proyektor film, dan layar. Realisasi kekosongan adalah analogi dengan pemahaman bahwa film tidak ada orang yang nyata. Namun penampilan karakter itu memang ada, tergantung pada film, layar, dan seterusnya. Jadi, orang itu masih dapat menikmati film, tapi tidak secara emosional naik dan turun saat sang pahlawan mengalami macam-macam peristiwa.
Dengan membangkitkan kebijaksanaan yang secara langsung merealisasi kekosongan, kita memahami cara kita dan fenomena lain ada: mereka tidak ada dari khayalan proyeksi kita pada mereka – khususnya proyeksi keberadaan yang berdiri sendiri. Memiliki kebijaksanaan merealisasi kenyataan, kita terbebas dari ketidaktahuan yang salah mengerti kenyataan. Membiasakan batin kita dengan kekosongan, kita secara bertahap menghilangkan semua ketidaktahuan, amarah, kemelekatan, kesombongan, keirihatian, dan sikap buruk lain dari batin kita. Dengan melakukannya, kita berhenti menciptakan perbuatan buruk yang dimotivasi oleh sikap-sikap tersebut. Bebas dari pengaruh ketidaktahuan, emosi-emosi pengganggu, dan perbuatan yang dimotivasi oleh ini semua, kita terbebaskan dari penyebab masalah kita, dan maka masalah juga berhenti. Dengan kata lain, kebijaksanaan merealisasi kekosongan adalah jalan benar menuju kebahagiaan.
Apa artinya berkata, "Semua orang dan fenomena adalah tidak ada keberadaan yang sejati atau yang berdiri sendiri?"
Itu artinya bahwa orang (seperti kamu dan saya) dan semua fenomena lain (meja, dll) adalah kosong dari proyeksi khayalan kita pada mereka. Salah satu prinsip kualitas "penipu" yang kita memproyeksikan orang-orang dan fenomena adalah bahwa keberadaan mereka berdiri sendiri, yaitu, mereka ada tidak tergantung pada sebab dan kondisi, bagian, dan kesadaran yang memahami mereka dan memberi nama pada mereka. Jadi, dalam pandangan biasa, barang-barang nampak memiliki sifat benar atau berdiri sendiri, seolah-olah mereka senyatanya di sana, sehingga kita dapat menemukan hal nyata ini, benar-benar tidak bergantung (pada yang lain) bila kita mencarinya. Mereka nampak berada di sana, tidak bergantung pada sebab dan kondisi yang membuat mereka, tidak terikat pada bagian dari apapun mereka dibuat, tidak bergantung dari batin yang memahami dan memberikan mereka sebuah nama. Ini penampakkan dari keberadaan yang sejati atau keberadaan yang berdiri sendiri dan batin kita "memegang erat" seperti sesuatu yang nyata.
Bagaimanapun, ketika kita mengujinya secara analitis bila barang muncul dalam cara tidak bergantung (pada yang lain) yang secara dangkal muncul, kita menemukan bahwa mereka tidaklah demikian. Mereka kosong dari proyeksi khayalan kita pada mereka. Mereka masih ada, tetapi mereka ada secara bergantung (pada yang lain), karena mereka tergantung pada sebab dan kondisi, pada bagian, dan pada batin yang memahami dan memberi mereka nama.
Bila semua orang dan fenomena adalah kosong, apakah itu berarti tak ada yang muncul?
Tidak, fenomena dan orang tetap muncul. Kan, saya masih mengetik di sini dan anda masih membaca! Kekosongan bukan berarti kenihilan. Malah, orang dan fenomena kosong dari proyeksi khayalan kita atas mereka. Mereka tidak punya konsep salah kita pada mereka. Mereka tidak muncul dalam cara mereka muncul di hadapan kita saat ini, tetapi mereka muncul.
Apa cara terbaik merealisasi kekosongan dari keberadaan yang berdiri sendiri?
Karena realisasi ini sulit diperoleh dan merupakan tahapan menengah dari jalan, kita mengembangkan pemahaman kita secara perlahan. Jalan menuju pembebasan dan pencerahan adalah bertahap, dan kita mempraktikkannya langkah demi langkah. Pertama kita melatih aspek dasar dari jalan, seperti ketidakekalan, perlindungan, cinta kasih dan welas asih, dan seterusnya. Kemudian kita mendengar ajaran tentang kekosongan dari guru yang berpengetahuan dan dapat diandalkan. Merenungi dan mendiskusikan ajaran ini, pemahaman kita menjadi lebih jelas. Saat kita melihat ide jelas dari sebuah subjek, kita kemudian mulai mengintegrasikannya ke batin kita melalui meditasi.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 13 - Langkah-Langkah Sepanjang Jalan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


LANGKAH-LANGKAH SEPANJANG JALAN
Siapa itu arhat (arahat)? Apa itu nirvana (nibbana)?
Seorang arahat adalah orang yang telah menghilangkan ketidaktahuan dan emosi-emosi pengganggu (amarah, kemelekatan, keirihatian, kesombongan, dll) dari batinnya untuk selama-lamanya. Sebagai tambahan, ia telah menyucikan semua karma yang dapat menyebabkan kelahiran kembali pada roda samsara. Orang ini tinggal di alam kedamaian, di luar semua kegelapan dan penderitaan, yang dinamakan nirvana atau pembebasan.
Apa itu bodhi atau pencerahan?
Sebagai tambahan dari menghilangkan ketidaktahuan, emosi-emosi pengganggu, dan karma dari batin, seorang Buddha juga telah menghilangkan noda dari kekotoran ini. Jadi, seorang Buddha telah menyucikan semua kekotoran dan mengembangkan semua kualitasnya. Akibat yang dihasilkan disebut pencerahan
Apa itu bodhisattva, mahluk yang berdedikasi?
Seorang bodhisattva adalah mahluk yang secara spontan dan terus menerus memiliki harapan mencapai pencerahan bagi manfaat semua mahluk. Dengan mempraktikkan sang jalan, orang ini akan meraih tingkat kebuddhaan.
Ada tingkatan berbeda dari bodhisattva, menurut tingkatan realisasinya. Beberapa masih belum bebas dari roda samsara, sementara yang lain telah bebas. Yang terakhir ini dapat secara sukarela terlahir di dunia ini, dengan kekuatan welas asih, guna membantu yang lain. Para Buddha dapat melakukan hal ini juga.
Apa itu seorang arya, mahluk superior atau mulia?
Ini adalah seorang yang memiliki realisasi langsung akan kekosongan. Realisasi ini terjadi sebelum seseorang menjadi arahat atau Buddha, dan oleh karena kebijaksanaan merealisasi kekosongan ini seseorang menghilangkan ketidaktahuan, emosi-emosi pengganggu, karma, dan noda-nodanya, maka tercapailah pembebasan dan pencerahan.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 12 - Meditasi



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


MEDITASI
Apa itu meditasi?
Kata bahasa Tibet untuk meditasi adalah "gom." Ini memiliki kata dasar yang sama dengan kata-kata yang artinya membiasakan. Meditasi adalah membiasakan diri kita dengan sikap positif, konstruktif, dan realistik. Meditasi membangun kebiasaan baik dari batin. Meditasi bukan duduk dalam posisi vajra penuh, dengan punggung tegak seperti panah, dan ekspresi suci di wajah kita. Meditasi dilakukan dengan batin. Bahkan bila tubuh berada pada posisi sempurna, bila batin berkeliaran dan berpikir tentang objek kemelekatan, itu bukanlah meditasi. Dengan meditasi, kita mentransformasikan pikiran dan pandangan kita sehingga batin kita lebih welas asih dan mendekati kenyataan.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 11 - Bhikkhu, Bhikkhuni & Umat Awam



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


BHIKKHU, BHIKKHUNI & UMAT AWAM
Apa manfaat mengambil penahbisan sebagai seorang bhikkhu atau bhikkhuni? Apakah perlu untuk mempraktikkan Dharma?
Tidak, menjadi seorang bhikkhu atau bhikkhuni tidak diperlukan untuk mempraktikkan Dharma. Mengambil penahbisan adalah pilihan individu yang tiap orang lakukan untuk diri sendiri. Tentu saja, ada banyak manfaat ditahbiskan: hidup dalam aturan, seseorang terus menerus menghimpun potensi positif. Selama orang itu tidak melanggar sila, saat tidur pun, ia memperkaya rangkaian mentalnya dengan potensi positif. Seseorang juga punya lebih banyak waktu dan sedikit gangguan untuk praktik. Dengan kewajiban keluarga, banyak waktu dan energi terbuang menjaga keluarga. Anak-anak butuh perhatian, dan sulit untuk meditasi jika mereka bermain atau menangis di dekat kita. Seseorang melihat ini sebagai rintangan dan siapa yang ingin menenangkan batin dan menghimpun potensi positif, dapat memutuskan untuk mengambil penahbisan agar memilki situasi yang lebih baik untuk praktik.
Bagaimana umat awam dapat mempraktikkan Dharma?
Yang ingin menjadi umat Buddha biasa dapat mempraktikkan Dharma dengan baik dengan menaklukkan batinnya. Tidak ada gunanya memandang rendah potensi seseorang dan berpikir, "saya umat awam, mendengarkan ceramah, melafalkan sutra dan bermeditasi adalah pekerjaan para bhikkhu dan bhikkhuni. Hal itu bukan pekerjaan saya. Saya cukup pergi ke vihara, bersujud, melakukan persembahan dan berdoa untuk kesejahteraan keluargaku." Kegiatan ini bagus, tetapi umat awam dapat menjalani kehidupan spritual yang lebih kaya, baik dalam hal pengetahuan Buddhisme maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat penting bagi umat awam menghadiri ceramah Dharma dan mengikuti serangkaian pengajaran. Dengan melakukan ini, umat awam akan memahami kebenaran sejati dan indahnya Dharma. Bila tidak mereka menjadi "Buddhis penancap dupa" dan bila seseorang menanyakan sesuatu tentang Buddhisme, mereka kesulitan menjawabnya. Hal itu adalah situasi yang menyedihkan.
Setelah mendengarkan ceramah, seseorang seharusnya mempraktikkan ajaran semaksimal mungkin. Melafalkan sutra atau bermeditasi setiap hari adalah luar biasa. Terkadang para siswa berkata, "Hari-hariku disibukkan oleh pekerjaan, keluarga dan kewajiban sosial. Tidak ada waktu tersisa untuk mempraktikkan Dharma." Ini alasan yang lemah, diciptakan oleh batin yang malas. Selalu ada waktu untuk makan: kita tidak pernah melewatkan makanan ke tubuh dan selalu memiliki waktu untuk itu, begitu juga seharusnya kita memberi makan batin kita. Lagipula, batin kita yang berlanjut pada kehidupan mendatang, membawa serta jejak karma perbuatan kita, bukan tubuh kita. Praktik Dharma tidak dilakukan untuk manfaat Sang Buddha, tapi untuk kita sendiri. Dharma menggambarkan bagaimana menciptakan sebab dari kebahagiaan, oleh karena kita semua menginginkan kebahagiaan, kita semua seharusnya mempraktikkan Dharma semaksimal mungkin.
Juga, sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi umat awam untuk mengambil janji Pancasila Buddhis selama hidup mereka atau mengambil Athasila (delapan sila) pada hari-hari khusus, seperti bulan baru dan bulan penuh (tanggal 1 dan 15 kalender lunar). Dengan cara ini, banyak potensi positif dibuat.
Tanggung jawab keberadaan dan penyebaran ajaran Sang Buddha terletak pada baik bhikkhu dan bhikkhuni maupun umat Buddhis. Bila kita melihat berharganya ajaran Sang Buddha dan menginginkannya terus ada dan tumbuh subur, maka kita memiliki tanggung jawab untuk mempelajarinya dan mempraktikkannya menurut kemampuan kita. Ada banyak contoh umat biasa yang mencapai realisasi spiritual, memberi inspirasi pada kita untuk mempelajari hidup mereka dan berusaha menyamai bahkan melebihi mereka.
Apakah orang yang menjadi bhikkhu dan bhikkhuni melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras?
Bila seseorang menjadi seorang bhikkhu atau bhikkhuni karena alasan ini, motivasinya tidak murni, dan orang seperti ini tidak menemukan kepuasan hidup dalam kebhikkhuan. Penyebab penderitaan adalah kemelekatan, ketidaktahuan, dan kebencian. Sikap ini mengikuti kita kemana saja. Sikap ini tidak butuh paspor untuk pergi dengan kita ke negara lain, tidak pula mereka berada di luar pagar vihara. Selama kita memiliki kemelekatan, ketidaktahuan dan kebencian, kita tidak bisa lolos dari masalah, apakah kita bhikkhu/bhikkhuni atau umat awam.
Orang yang menanyakan pertanyaan ini mengira bahwa memiliki pekerjaan, harta, keluarga untuk dijaga adalah tugas berat dan inilah "kenyataan hidup yang keras." Kenyataan yang lebih keras adalah jujur pada diri kita sendiri dan melihat konsep kita salah dan perilaku buruk kita. Pekerjaan yang lebih berat adalah mengurangi kemarahan, kemelekatan, dan kepicikan kita. Seseorang membaca sutra atau duduk meditasi dengan tenang tidak dapat memperlihatkan gedung pencakar langit atau cek sebagai tanda keberhasilannya, tetapi tidak berarti orang itu malas dan tidak bertanggung jawab. Perlu usaha keras untuk mengubah kebiasaan buruk tubuh, ucapan, dan batin; bukan hal mudah menjadi seorang Buddha. Daripada "lari dari kenyataan," praktisi tulus mencoba mencari tahunya! Orang-orang yang mengejar kesenangan duniawi adalah orang yang coba lari dari kenyataan, sebab mereka menghindar akan kenyataan kematian dan fungsi dari sebab akibat. Secara Dharma, mereka malas karena mereka tidak berusaha keras mengatasi kemelekatan, kemarahan, dan kepicikan mereka.
Beberapa orang berpikir, "hanya orang yang tidak tahan ‘di dunia nyata’ menjadi bhikkhu dan bhikkhuni. Mungkin mereka punya masalah keluarga, atau mereka kurang bagus di sekolah atau mereka miskin dan tidak punya tempat tinggal. Mereka pergi untuk tinggal di vihara dan mengucapkan janji hanya untuk memiliki tempat tinggal dan pekerjaan." Berpikir demikian, beberapa orang memandang rendah para bhikkhu. Ini tidak benar. Seseorang menjadi bhikkhu atau bhikkhuni untuk alasan ini, ia tidak memiliki motivasi yang benar, dan guru yang menahbiskan mencoba mengusir mereka. Kebalikannya, mereka yang mengambil janji kebhikkhuan dengan motivasi yang benar memiliki cita-cita kuat untuk mengembangkan potensi mereka untuk mengatasi batin mereka dan menolong mahluk lain.
Apakah seseorang yang mengambil janji kebhikkhuan tidak sayang pada keluarga yang ia tinggalkan?
Tidak sama sekali. Kebalikannya, orang yang dengan tulus ingin menjadikan dunia tempat yang lebih baik melalui praktik agama adalah penuh welas asih. Mereka melihat bahwa dengan menciptakan sebab dari kelahiran kembali yang baik, dengan menyucikan dan mengembangkan batin mereka, mereka akan dapat menuntun mahluk lain menuju kebahagiaan terakhir melalui jalan Dharma. Mereka tahu apa yang memberi manfaat besar bagi orang tuanya dan pelayanan bagi masyarakat. Meskipun meraih realisasi tinggi mungkin tidak terjadi dalam kehidupan ini, mereka memiliki pandangan luas dan bekerja untuk kebahagian dan manfaat jangka panjang. Seorang anak yang penuh welas asih dan dedikasi berpikir, "Bila saya lanjutkan kehidupan duniawiku, saya hanya akan menciptakan penyebab kelahiran di alam lebih rendah bagi diriku sendiri dan menyebabkan yang lain melakukan hal yang sama. Bagaimana saya bisa menolong orang tuaku di kehidupan sekarang maupun akan datang? Dimana bila saya benar-benar terlibat mempraktikkan Dharma dengan tulus, kualitasku sendiri akan meningkat dan saya akan bisa menuntun dan membantu mereka lebih baik untuk jangka waktu lama."
Orang yang menjalani kebhikkhuan meninggalkan kehidupan keluarga tidak berarti mereka menolak keluarganya. Meski mereka ingin menyingkirkan emosi-emosi pengganggu yaitu kemelekatan terhadap keluarga mereka, mereka masih menghargai kebaikan orangtua mereka dan sangat perhatian pada mereka. Daripada membatasi perhatian pada segelintir manusia, orang yang menjalani kebhikkhuan mengembangkan cinta kasih tak terbatas bagi semua dan memperlakukan semua mahluk sebagai bagian dari keluarga mereka.
Bagaimana perasaan orangtua bila anaknya menjadi bhikkhu atau bhikkhuni?
Sangat bahagia. Itu tandanya mereka, sebagai orang tua, telah menanamkan moralitas dan perhatian pada orang lain bagi anak mereka. Kebalikannya, beberapa orang tua kesal bila anak mereka ingin menjadi bhikkhu atau bhikkhuni. Mereka takut anaknya tidak bahagia atau tidak memiliki jaminan keuangan. Beberapa orangtua marah, "Kami bayar banyak untuk pendidikanmu. Siapa yang akan menjaga kami kelak tua nanti bila kamu divihara? Betapa tidak sayangnya kamu!"
Sedih melihat orangtua bersikap seperti ini. Dari sisi mereka, mereka maksudnya baik: mereka ingin anak mereka bahagia. Tetapi kebahagian materi dan memiliki keluarga, karir dan kepemilikan lain bukanlah satu-satunya jalan menuju kebahagian. Nyatanya, hal itu membawa masalah baru: kita menciptakan perbuatan negatif untuk memperolehnya, kita khawatir tidak cukupan dan apa yang akan terjadi pada apa yang kita punyai. Inilah sebabnya Buddha Sakyamuni meninggalkan keluarganya dan kehidupan mewah di istana untuk mencari kebahagian tanpa akhir (selama-lamanya) dan sejati. Tentu saja, orangtuanya juga kesal! Tetapi orang tua yang benar-benar memperhatikan kebahagiaan anaknya akan senang jika si anak ingin mempraktikkan Dharma secara kuat, oleh karena praktik seperti itu akan menjamin anak itu akan bahagia di waktu kematian dan kehidupan masa akan datangnya. Dengan praktik, anak mereka akan menikmati kebahagian pembebasan dan pencerahan. Orang tua yang bijak akan peduli pada kebahagian anaknya, tidak saja di kehidupan sekarang melainkan di semua kehidupan mendatang.
Adalah bijaksana bagi orangtua sadar akan motivasinya sendiri. Ayahanda Sang Buddha ingin dapat berkata, "Putraku seorang raja. Ia sangat dihormati masyarakat seluruh negeri." Juga, orang tuanya terikat pada putranya dan tak ingin berpisah darinya. Hal itu adalah reaksi alamiah orangtua. Betapa ironisnya! Anak mereka menerima lebih banyak rasa hormat dari orang-orang dan terkenal bertahun-tahun oleh kebajikan praktik spritualnya. Ia tidak akan begitu termasyur dan sangat dihargai bila ia menjadi raja dulu!
Orang tua yang melihat kebenaran ajaran Buddha akan senang anak mereka menjalani kebhikkhuan. Praktik spritual anak itu akan bermanfaat bagi yang lain - termasuk orangtuanya - dalam jangka panjang, bahkan bila hasil yang nyata tidak tampak pada kehidupan ini. Mereka akan bahagia bahwa anaknya cerdas dan melihat kebenaran dalam Dharma; mereka akan bangga bahwa anaknya ingin hidup dalam kemurnian moralitas, dan mereka akan bahagia, saat mereka melihat anaknya kaya akan welas asih dan kebijakan. Orang tua seperti ini tidak merasa kehilangan anaknya. Malah, mereka gembira anaknya hidup dalam cara yang bermanfaat.
Apakah mengambil janji kebhikkhuan merupakan pengorbanan yang menyengsarakan?
Tidak seharusnya demikian. Kita tidak seharusnya merasa, "saya ingin sekali dapat melakukan hal-hal ini, tapi sekarang saya tidak bisa." Membebaskan perbuatan negatif tidak dilihat sebagai beban, tapi sebagai kesenangan. Sikap seperti ini datang dari perenungan sebab dan akibat.
Ketika kita berjanji, apakah itu Pancasilanya umat awam atau janji seorang bhikkhu atau bhikkhuni, kita pertama-tama membangkitkan sikap ini, "Saya tidak ingin melakukan perbuatan ini kapan pun. Dalam hatiku, saya tidak ingin membunuh, mencuri, berbohong dan lainnya." Kadang-kadang kita lemah dalam situasi sebenarnya dan tergoda untuk melakukan hal ini, tetapi mengambil janji pancasila memberikan kita kekuatan dan kebulatan tekad tambahan untuk tidak melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan. Contohnya, kita dengan tulus ingin menghindari pembunuhan. Tetapi ketika kecoak ada di apartemen kita, kita mungkin tergoda untuk menggunakan insektisida. Telah mengambil janji untuk tidak membunuh, kita ingat bahwa kita tidak ingin membunuh. Kita lebih berhati-hati akan perbuatan kita dan memiliki kekuatan dan kebulatan tekad yang lebih untuk melawan dan menghindarkan emosi-emosi pengganggu yang dapat menyebabkan kita melakukan perbuatan negatif. Dalam cara ini, Pancasila adalah membebaskan, bukannya membatasi diri kita dari kebiasaan untuk mengikuti emosi-emosi pengganggu dan melakukan perbuatan merusak.
Kadang-kadang kita menjumpai Bhikkhu dan umat awam yang kurang baik dan sulit bergaul walau mereka praktik agama. Mengapa?
Butuh waktu untuk mengubah batin. Menghilangkan kemarahan kita bukanlah proses mudah. Kita dapat mengerti hal itu dari pengalaman kita sendiri, ketika kita terbiasa marah, butuh lebih dari sekedar berkata, "Saya tidak seharusnya melakukan ini" bagi kita untuk berhenti. Ia butuh praktik konsisten dan benar. Kita harus sabar dengan diri sendiri, dan sama halnya, kita harus sabar dengan yang lain. Kita semua berada pada jalan; kita semua melawan musuh dari dalam yaitu emosi-emosi pengganggu dan jejak karma masa lalu. Terkadang kita kuat melawannya, di saat lain kita terbawa oleh perasaan marah, cemburu, kemelekatan, atau kesombongan. Kadang-kadang kita melihat kepicikan kita; saat lain kita buta olehnya. Menghakimi dan menyalahkan diri kita sendiri ketika kita mengalah pada emosi-emosi pengganggu tidaklah baik. Seperti halnya, menyalahkan dan mengkritik orang lain ketika mereka begitu hanya sia-sia. Mengetahui betapa sulitnya transformasi internal diri kita, kita seharusnya juga sabar dengan yang lain.
Praktisi yang tidak sempurna bukan berarti metode yang Sang Buddha ajarkan tidak sempurna. Itu artinya mereka tidak praktik dengan baik atau praktik mereka belum cukup kuat. Teramat sangat penting dalam lingkup agama bahwa orang mencoba bersikap harmonis dan menerima kelemahan masing-masing. Tugas kita tidak menunjuk dan berkata, "Mengapa kamu tidak praktik lebih baik? Mengapa kamu tidak mengontrol emosimu?" Tugas kita adalah berpikir, "Mengapa saya tidak praktik lebih baik sehingga perbuatan mereka tidak membuat saya marah?" dan "Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu mereka?"

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 10 - Wanita & Dharma



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


WANITA & DHARMA
Dapatkah pembebasan dan pencerahan dicapai oleh laki-laki dan wanita?
Menurut Vajrayana ya. Dalam Theravada dan umumnya Mahayana, diyakini bahwa meski seseorang dapat meraih pembebasan dengan tubuh wanita, untuk mencapai pencerahan, orang itu harus memiliki tubuh laki-laki di kelahirannya yang terakhir. Namun, menurut praktik tantra, baik laki-laki maupun wanita secara sama dapat mencapai pencerahan. Yang Mulia Dalai Lama berulangkali menekankan hal ini.
Mengapa lebih sedikit wanita menjadi praktisi yang ditahbiskan dan mengapa wanita lebih sedikit dihormati daripada laki-laki?
Pada kebudayaan kebanyakan, kegiatan wanita lebih terbatas dan posisi sosial mereka lebih rendah daripada laki-laki. Jadi pada zaman India kuno, dan maka Sang Buddha mengatur wanita duduk di belakang laki-laki dan dilayani setelah laki-laki. Ini mengenai budaya sosial, dan tidak menunjukkan kecerdasan atau kemampuan wanita, kenyataannya, ketika laki-laki mewakili aspek metode jalan menuju pencerahan, wanita adalah simbol aspek kebijaksanaan!
Dapatkah wanita melakukan persembahan dan doa selama menstruasi? Dapatkah ia meditasi saat itu?
Tentu saja! Dugaan yang mengatakan tidak bisa hanyalah tahyul belaka.
Apakah lebih sulit bagi wanita mempraktikkan Dharma daripada laki-laki?
Itu sepenuhnya tergantung dari individu. Bagi beberapa wanita, siklus menstruasi mereka menyebabkan banyak perubahan emosi. Tapi mereka dapat belajar mengatasinya. Bagaimanapun, laki-laki emosinya dapat berubah-ubah juga! Saya percaya bahwa satu dari hal utama yang menghalangi wanita adalah konsep diri dan kepercayaan diri yang terbatas. Jika kita berpikir kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik, maka kita bahkan tidak mencoba. Betapa sia-sianya potensi kita sebagai manusia! Sepanjang kita manusia dengan kecerdasan manusia, dan bertemu tidak saja dengan Dharma tetapi juga memiliki semua kondisi yang diperlukan untuk praktik dan mendapatkan realisasi, mari lakukan hal itu!

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 9 - Kemelekatan, Ketidakmelekatan & Keinginan


Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KEMELEKATAN, KETIDAKMELEKATAN & KEINGINAN
Apa beda antara memiliki kemelekatan dengan orang dan mencintai orang itu?
Dengan kemelekatan kita menilai berlebihan kualitas orang itu, berpikir bahwa mereka lebih baik dari yang sebenarnya. Juga kita perhatian pada mereka karena mereka menyenangkan kita: mereka memberi kita hadiah, memuji kita, membantu dan mendorong kita, dll. Apa yang umum kita sebut cinta biasanya hanyalah kemelekatan. Dengan kemelekatan, kita tidak melihat orang sebagaimana adanya dan mengembangkan harapan atas mereka: mereka seharusnya seperti ini, mereka seharusnya melakukan itu, dll. Kemudian, ketika mereka tidak seperti yang kita pikirkan, kita terluka, kecewa, dan menyalahkan mereka.
Dengan cinta sejati, kita memberi perhatian pada orang lain dan menginginkan mereka bahagia bukan karena mereka menyenangkan ego dan keinginan kita, tetapi hanya karena mereka ada. Cinta sejati tidak berharap sesuatu sebagai balasan. Kita menerima orang sebagaimana adanya dan masih mencoba membantu mereka, tetapi kita tidak memperhatikan sama sekali bagaimana kita mengambil keuntungan dari hubungan itu. Cinta sejati tidak cemburuan dan memiliki. Lebih dari itu, ia tidak terbatas dan berbagi dengan semua mahluk.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 8 - Kematian



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KEMATIAN
Bagaimana cara terbaik menolong orang yang sekarat atau mati?
Ketika seseorang sedang sekarat, paling baik adalah lingkungan sekitarnya menjadi tenang. Tenangkan ia bahwa semua urusan dunianya akan diperhatikan setelah ia meninggal. Tidak ada lagi yang perlu diperhatikan tentang siapa yang membayar tagihan atau siapa yang mengurus anak-anak. Lebih baik berkonsentrasi meninggalkan kehidupan ini dalam damai, tanpa ketakutan atau kekhawatiran. Jangan ganggu orang itu dengan menanyakan, "Siapa yang mewarisi perhiasanmu?" "Kamu punya uang yang disembunyikan?" "Bagaimana saya bisa bertahan tanpamu?" Motivasi kita adalah membantu orang yang sekarat, bukan memberinya tambahan masalah!
Sulit untuk meninggal dalam damai bila seluruh keluarga di ruangan menangis, meratap, dan menggenggam tangan orang itu, dan berkata, "Tolong jangan meninggal. Saya mencintaimu. Bagaimana kamu bisa meninggalkanku seorang diri?" Kita mungkin berpikir bahwa kita menyatakan cinta dan perhatian dengan tampilan emosional, tetapi sesungguhnya, hanya batin keakuan kita meratapi karena kita kehilangan orang yang kita perhatikan. Jika kita sebenarnya memberi perhatian kepada orang sekarat lebih daripada kita sendiri, kita akan mencoba membuat lingkungan tenang dan nyaman. Kita coba merasakan permintaan dan kebutuhan orang lain, bukan kebutuhan sendiri.
Berbahaya untuk meninggal dalam kemarahan atau kemelekatan, keirihatian, atau kesombongan sebagai pikiran terakhir seseorang. Untuk alasan inilah kita mencoba membuat lingkungan sekitarnya tanpa suara dan tenang dan mendorong orang itu membangkitkan pikiran positif. Bila orang itu Buddhis, kita berbicara tentang Buddha, Dharma, dan Sangha. Katakan padanya untuk mengingat guru spiritualnya dan Sang Buddha. Kita dapat memperlihatkan padanya gambar Buddha atau melafalkan doa dan mantra dalam ruangan. Sebelum kematian benar-benar terjadi, bila kita bisa menuntun orang itu membuat pengakuan dan menyucikan perbuatan buruk, ini sangat bermanfaat. Doronglah ia untuk mendoakan kelahiran kembali yang baik, untuk bertemu dengan ajaran dan guru mulia dan membuat hidup bermanfaat bagi mahluk lain.
Di sisi lain, jika orang itu menganut kepercayaan lain, di saat kematian menjelang, tidaklah bijaksana memaksakan kepercayaan kita padanya. Ini dapat membingungkan. Yang terbaik adalah berbicara menurut kepercayaan orang itu dan mendorong bangkitnya batin positif.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 7 - Ketidakkekalan dan Penderitaan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KETIDAKKEKALAN & PENDERITAAN
Dalam Buddhisme, ada penekanan yang besar pada ketidakkekalan, kematian, dan penderitaan. Tidakkah itu pendekatan untuk kehidupan yang tidak sehat?
Tujuan merenungkan ketidakkekalan, kematian, dan penderitaan bukanlah agar kita menjadi tertekan dan kesenangan diambil dalam hidup. Tujuannya untuk membersihkan diri kita dari kemelekatan dan harapan yang salah. Jika kita merenungkan hal-hal ini sehingga kita takut atau tertekan, maka kita merenungkan tidak di jalan yang tepat. Malah, topik ini seharusnya menenangkan batin kita dan lebih jelas karena kebingungan yang disebabkan kemelekatan telah dihentikan.
Saat ini, batin kita mudah dibanjiri oleh proyeksi salah kemelekatan. Kita melihat orang dan objek dengan cara yang tidak realistik. Benda yang berubah dari waktu ke waktu tampak di depan kita secara tetap dan tidak berubah. Itu sebabnya kita kesal kalau barang kita hancur. Kita mungkin berkata, "segala sesuatu tidak kekal adanya," namun kata-kata kita tidak konsisten dengan pandangan diri bahwa tubuh kita dan lainnya sebagai fenomena yang tidak berubah. Konsep tidak realistik kita menyebabkan penderitaan, karena kita memiliki harapan akan barang dan orang yang tidak dapat terpenuhi. Orang yang kita cintai tidak dapat hidup selamanya; hubungan tidaklah sama pada akhirnya; mobil baru tidak akan selalu model mengkilap layaknya baru keluar dari ruang pamer. Jadi, kita terus-menerus kecewa ketika harus berpisah dengan barang yang kita cintai, ketika barang milik kita pecah, ketika tubuh kita menjadi lemah atau berkeriput. Jika kita memiliki pandangan lebih realistik dari hal-hal ini sejak awal dan menerima ketidakkekalan mereka – tidak hanya dari mulut melainkan dari hati kita – maka kekecewaan semacam itu tidak datang.
Merenungi ketidakkekalan dan kematian juga mengurangi kekhawatiran yang tidak berguna yang mengganggu kita dan mencegah kita bahagia dan tenang. Biasanya, kita menjadi sangat kesal ketika dikritik atau dihina. Kita marah ketika milik kita dicuri; kita cemburu bila orang lain mendapat promosi yang kita inginkan; kita bangga akan penampilan kita atau kemampuan atletik kita. Semua sikap ini adalah emosi-emosi pengganggu yang meninggalkan jejak buruk bagi rangkaian mental kita yang membawa masalah bagi kita di kehidupan mendatang. Bahkan dalam kehidupan sekarang kita tidak bahagia. Namun, bila kita renungkan betapa tidak kekalnya barang ini, jika kita ingat bahwa hidup kita pada akhirnya akan berakhir dan tidak ada barang apapun yang menemani kita saat kematian, maka kita berhenti membesar-besarkan pentingnya mereka sekarang. Mereka berhenti menjadi masalah bagi kita.
Ini tidak berarti kita jadi tidak peduli pada orang dan barang sekeliling kita. Sebaliknya, dengan mengurangi konsep salah akan kekekalan yang timbul tergantung pada konsep salah tersebut, batin kita menjadi lebih jernih dan lebih dapat menikmati barang sesuai apa adanya. Kita lebih hidup saat ini, menghargai barang saat ini, tanpa khayalan tentang jadi apa barang itu nanti. Kita sedikit khawatir pada hal kecil dan sedikit terkacaukan saat kita duduk bermeditasi. Kita menjadi lebih sedikit sensitif- ego pada tiap perbuatan yang orang lain lakukan pada kita. Dengan memikirkan dengan sungguh-sungguh ketidakkekalan dan penderitaan, kita dapat berurusan lebih baik dengan perpisahan dan kesukaran saat mereka muncul, dan menyadari bahwa kita masih di dalam perputaran roda samsara. Singkatnya, dengan merenungkan secara benar kenyataan ini, mental kita jadi lebih sehat.
Mengapa ada penderitaan? Bagaimana menghentikan penderitaan?
Penderitaan muncul karena sebab untuk itu hadir: emosi-emosi pengganggu – ketidaktahuan, kemelekatan, kebencian, dsb – dan perbuatan yang kita lakukan dimotivasi oleh "kesalahan konsep" seperti membunuh, mencuri, berbohong, dan seterusnya. Dengan mengembangkan kebijaksanaan merealisasi ketanpaakuan, kita menghentikan sebab dari masalah kita. Kemudian hasil yang penuh kesengsaraan tidak mengikuti, dan malahan, kita dapat tinggal di alam kebahagiaan tanpa akhir atau nirvana. Sementara itu, sebelum kita membangkitkan kebijaksanaan, kita dapat melakukan praktik penyucian dalam rangka mencegah perbuatan destruktif yang ditimbulkan sebelumnya membawa hasilnya.
Sang Buddha juga mengajarkan banyak cara lain berpikir untuk mentransformasi keadaan sulit menuju jalan mencapai pencerahan. Kita dapat belajar tentang ini dan mempraktikkannya mana kala kita punya masalah.
Apakah kita harus menderita agar mencapai pembebasan (nirvana)?
Mempraktikkan ajaran Buddha membawa kebahagiaan dan bukan kesengsaraan. Jalan spiritual tidaklah menyengsarakan. Tidak ada kebajikan khusus dalam penderitaan. Kita telah cukup memiliki masalah, jadi tidak ada alasan untuk kita lebih menderita atas nama mempraktikkan agama. Namun, tidaklah berarti saat kita berusaha keras mempraktikkan Dharma kita tidak akan memiliki masalah. Untuk sementara kita berada pada jalan, perbuatan destruktif yang ditimbulkan sebelumnya yang belum disucikan dapat matang dan membawa masalah. Jika dan ketika ini terjadi, kita harus menggunakan situasi itu untuk memberi energi bagi kita untuk praktik lebih baik agar mencapai alam di atas penderitaan, alam kebahagiaan tanpa akhir.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 6 - Karma: Fungsi Dari Sebab & Akibat



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KARMA: FUNGSI DARI SEBAB & AKIBAT
Apa itu karma? Bagaimana karma bekerja?
Karma berarti perbuatan, dan merujuk pada perbuatan yang kita lakukan melalui tubuh, ucapan, dan batin kita. Perbuatan ini meninggalkan jejak atau benih dalam rangkaian mental kita, yang masak ke dalam pengalaman kita ketika kondisi yang tepat datang bersamaan. Benih dari perbuatan kita mengikuti kita dari kehidupan yang satu ke kehidupan yang seterusnya tanpa pernah lepas. Namun, bila kita tidak menciptakan sebab atau karma sesuatu, maka kita tidak menerima hasilnya: jika petani tidak menanam bibit, tiada yang tumbuh. Jika satu perbuatan membawa penderitaan dan kesengsaraan, ia disebut negatif, destruktif, atau non-bajik. Jika perbuatan membawa kebahagiaan maka ia disebut positif, konstruktif, atau bajik. Perbuatan tidak dengan sendirinya baik atau buruk tetapi disebut demikian dilihat dari hasil yang ditimbulkannya.
Fungsi sebab akibat dalam rangkaian mental kita adalah ilmiah. Semua hasil datang dari sebab yang memiliki kemampuan untuk menghasilkannya. Jika anda tanam bibit apel, sebuah pohon apel akan tumbuh, bukan cabe. Jika bibit cabe yang ditanam, cabe akan tumbuh, bukan apel. Dalam cara yang sama jika kita lakukan perbuatan positif, kebahagiaan akan terjadi; jika perbuatan negatif dilakukan, masalah akan muncul. Apapun kebahagiaan dan nasib baik yang kita alami dalam kehidupan kita datang dari perbuatan positif kita. Semua masalah kita datang dari perbuatan destruktif.
Apakah karma atau hukum sebab akibat adalah sistem hukuman dan hadiah? Apakah Sang Buddha menciptakan atau menemukan hukum sebab akibat ini?
Tentu tidak. Tidak ada orang yang memberi hadiah dan hukuman. Kita menciptakan sebab dengan perbuatan kita dan mengalami hasilnya. Kita bertanggung jawab untuk pengalaman kita sendiri. Tidak pula Sang Buddha menciptakan sistem sebab akibat ini, sebagaimana halnya Newton tidak menciptakan gravitasi. Sang Buddha hanya menggambarkan apa yang ia lihat melalui kekuatan batin maha tahuNya menjadi proses alami sebab akibat apa yang terjadi dalam rangkaian mental mahluk hidup. Dengan melakukan ini, ia menunjukkan bagaimana cara terbaik bekerja dalam hukum sebab akibat untuk meraih kebahagiaan yang kita inginkan dan menghindari penderitaan yang tidak kita sukai.
Konsep salah bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah hadiah dan hukuman mungkin datang dari kesalahan terjemahan kitab Buddhis ke dalam bahasa Inggris. Saya telah melihat beberapa teks diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menggunakan istilah dari agama lain. Ini salah arah. Istilah seperti (heaven) "surga," (hell) "neraka," (sin) "dosa," (punishment) "hukuman," (judgement) "peradilan," dan lainnya tidak sepenuhnya menjelaskan konsep Buddhis. Kata yang tepat dalam bahasa Inggris yang mencakup pengertian dari ajaran Buddha seharusnya digunakan.
Apakah hukum sebab akibat hanya berlaku bagi orang yang mempercayainya?
Tidak. Sebab dan akibat berfungsi tidak peduli kita menerimanya atau tidak. Perbuatan positif menghasilkan kebahagiaan dan perbuatan destruktif menghasilkan penderitaan apakah kita percaya atau tidak. Jika sebutir buah jatuh dari pohon, ia jatuh ke bawah meski kita percaya ia akan ke atas. Sangat ajaib bila yang kita butuhkan untuk menghindari hasil perbuatan kita adalah dengan tidak mempercayai hasil itu akan datang! Maka kita dapat makan semua yang kita mau dan tidak pernah gemuk! Seseorang yang tidak percaya pada kehidupan lampau dan sebab akibat dapat mengalami kebahagiaan sebagai hasil dari perbuatannya di masa lalu. Dengan menolak keberadaan hukum sebab akibat, dan seterusnya tidak berusaha untuk mempraktikkan perbuatan konstruktif dan menghindari perbuatan destruktif, orang itu menciptakan sedikit potensi positif dan secara ceroboh menciptakan perbuatan negatif. Di sisi lain, orang yang mengetahui sebab dan akibat akan berusaha dengan penuh kewaspadaan apa yang mereka pikirkan, ucapkan, dan lakukan untuk menghindari menyakiti mahluk lain dan menghindari meninggalkan jejak buruk dalam rangkaian mental mereka.
Mengapa ada beberapa orang yang melakukan perbuatan negatif sukses dan terlihat bahagia? Mengapa beberapa orang yang tidak percaya fungsi sebab dan akibat memiliki kehidupan yang baik?
Ketika kita melihat orang yang tidak jujur memiliki kekayaan, atau orang kejam menerima hormat dan kekuasaan, atau orang baik dirampok atau mati muda, kita mungkin meragukan hukum sebab akibat. Ini karena kita hanya melihat apa yang terjadi dalam periode kehidupan singkat ini. Banyak hasil yang kita alami dalam kehidupan ini hasil dari perbuatan di masa lalu, dan banyak perbuatan yang kita lakukan saat ini akan masak hanya di kehidupan mendatang. Kekayaan orang tidak jujur adalah hasil kedermawanannya dalam kehidupan terdahulu. Ketidakjujuran mereka sekarang meninggalkan benih karma bagi mereka untuk dicurangi dan mengalami kemiskinan di kehidupan mendatang. Sama halnya, kehormatan dan wewenang bagi orang kejam didasarkan pada perbuatan baik yang mereka lakukan di masa lalu. Saat ini, mereka menyalahgunakan kekuasaan, sehingga menciptakan sebab bagi penderitaan yang akan datang. Orang baik yang mati muda mengalami hasil dari perbuatan negatif seperti pembunuhan di kehidupan lalu. Namun, kebaikan mereka sekarang menanam benih atau jejak dalam rangkaian mental untuk kebahagiaan mereka di masa mendatang.
Cara yang pasti perbuatan khusus mana yang matang dan perbuatan tertentu apa yang kita lakukan di masa lalu yang membawa hasil khusus di kehidupan sekarang hanya dapat diketahui secara lengkap oleh batin maha tahu Buddha. Apa yang tercantum di sutra dan tantra mengenai perbuatan tertentu menghasilkan hasil tertentu adalah pedoman umum. Namun, dalam situasi khusus, hal ini bisa beragam sedikit tergantung sebab dan kondisi lainnya. Perbuatan destruktif membawa penderitaan dan perbuatan konstruktif membawa kebahagiaan tidak berubah. Tetapi dalam situasi tertentu dari individu, perbuatan negatif misalnya pembunuhan dapat matang di salah satu kelahiran di alam kehidupan yang rendah. Ini tergantung pada banyak faktor yang dapat membuat perbuatan ini berat atau ringan, seperti halnya kondisi yang ada saat itu ketika bibit karma matang.
Apakah kita mengalami hasil dari semua perbuatan kita?
Ketika bibit, meski kecil, ditanam dalam tanah, bibit akan tumbuh: demikianlah, bibit tidak tumbuh bila tidak menerima kondisi seperti air, cahaya matahari, dan pupuk yang diperlukan bagi pertumbuhan mereka, atau jika ia dibakar atau ditarik keluar dari tanah. Jalan satu-satunya menumbangkan jejak atau bibit karma adalah dengan meditasi pada kekosongan pada keberadaan yang berdiri sendiri. Ini jalan menyucikan emosi-emosi pengganggu dan jejak karma selengkapnya. Pada tingkatan kita, ini cukup sulit, tetapi kita masih dapat menghentikan jejak berbahaya masak dengan melakukan penyucian. Ini serupa dengan menahan bibit dari menerima air, cahaya matahari, dan pupuk.
Bagaimana kita menyucikan jejak negatif?
Penyucian dengan bantuan empat kekuatan penawar adalah sangat penting. Ia tidak hanya mencegah penderitaan mendatang, tetapi juga mengurangi perasaan bersalah atau beban berat yang kita alami sekarang. Dengan membersihkan batin kita, kita dapat mengerti Dharma dengan lebih baik, dan kita menjadi lebih damai dan berkonsentrasi lebih baik. Empat kekuatan penawar digunakan untuk menyucikan jejak atau bibit negatif adalah:
1. penyesalan
2. kebulatan tekad untuk tidak melakukan perbuatan itu lagi
3. mengambil perlindungan dan membangkitkan sikap
mementingkan orang lain
4. praktik perbaikan yang nyata
Pertama, kita mengakui dan menyesal melakukan perbuatan destruktif. Penyalahan diri dan rasa bersalah tidak cukup berguna dan hanya menganiaya diri sendiri secara emosi. Dengan penyesalan yang tulus, di sisi lain, kita mengakui telah membuat kesalahan dan menyesal melakukannya.
Kedua, kita berbulat tekad tidak melakukan perbuatan itu lagi. Jika perbuatan itu biasa dan sering kali kita lakukan, seperti mengkritik orang lain, munafik berkata kita tidak akan pernah melakukannya lagi seumur hidup. Lebih baik memilih jumlah waktu yang realistik dan bertekad kita akan mencoba tidak mengulangi perbuatan itu, tetapi terutama lebih waspada dan berusaha selama batas waktu tersebut.
Kekuatan ketiga adalah perlindungan. Perbuatan destruktif kita secara umum berhubungan dengan objek suci seperti Buddha, Dharma, dan Sangha, atau mahluk lain. Untuk membangun kembali hubungan baik dengan mahluk suci kita bertumpu pada mereka dengan mengambil perlindungan atau mencari arahan dari mereka. Untuk memiliki hubungan baik dengan mahluk lain kita membangkitkan sikap mementingkan orang lain sehingga kita dedikasikan hati kita menjadi Buddha agar dapat bermanfaat bagi mereka dengan cara terbaik.
Elemen keempat adalah melakukan perbuatan perbaikan. Ini bisa apapun perbuatan baik: mendengarkan ceramah, membaca buku Dharma, bersujud, melakukan persembahan, melafal nama para Buddha, membaca mantra, membuat patung atau gambar Buddha, menerbitkan buku Dharma, meditasi, dan lain-lain. Perbuatan perbaikan yang paling kuat adalah meditasi atas kekosongan.
Empat kekuatan penawar ini harus dilakukan berulang kali. Kita telah melakukan perbuatan negatif banyak kali, jadi wajar kita tidak berharap melawan mereka seketika. Semakin kuat empat kekuatan penawar – semakin kuat penyesalan kita, semakin teguh kebulatan tekad kita untuk tidak melakukan perbuatan itu lagi, dan seterusnya – semakin kuatlah penyucian itu. Sangat baik melakukan penyucian dengan empat kekuatan penawar itu tiap malam menjelang tidur guna melawan perbuatan destruktif yang kita lakukan sepanjang hari.
Jika orang menderita karena perbuatan negatif mereka sendiri, apakah hal ini berarti bahwa kita tidak dapat atau tidak seharusnya melakukan apapun untuk membantu mereka?
Tidak sepenuhnya demikian! Kita tahu bagaimana rasanya kesengsaraan, dan apa yang pasti orang lain rasakan karena mengalami akibat perbuatan destruktif mereka. Dengan empati dan welas asih, kita seharusnya membantu! Kesulitan orang itu disebabkan oleh perbuatannya sendiri, tapi tidak berarti kita diam saja dan santai berkata, "Oh, malangnya. Kasihan deh lu. Kamu seharusnya tidak lakukan perbuatan non-bajik itu."
Jangan memikirkan karma dengan cara kaku. Ya, orang itu menciptakan sebab mengalami kesulitan oleh perbuatannya sendiri, namun demikian ia juga mungkin menciptakan sebab menerima bantuan kita! Tetapi lebih dari itu, kita semua tahu apa yang akan kita rasakan bila berada dalam situasi mengerikan tersebut. Kita semua sama-sama menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Tidak jadi masalah penderitaan atau masalah siapa, penderitaan harus dihilangkan. Berpikir, "orang miskin jadi miskin karena kepelitan masa lalu mereka. Saya akan mencampuri proses alamiah sebab akibat jika coba membantu," adalah konsep yang salah sepenuhnya. Kita tidak seharusnya mencoba mencari alasan kemalasan atau kelesuan atau kemelekatan kita pada posisi lebih superior dengan salah menginterpretasikan sebab dan akibat. Perasaan welas asih dan tanggung jawab universal penting bagi pengembangan spiritual kita sendiri dan bagi perdamaian dunia.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 5 - Kelahiran Kembali Vs Penciptaan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KELAHIRAN KEMBALI vs PENCIPTAAN
Apa itu kelahiran kembali?
Kelahiran kembali berkaitan dengan batin seseorang yang mengambil tubuh yang baru. Tubuh dan batin kita adalah dua hal terpisah: tubuh adalah zat dan terbuat dari atom. Batin berarti semua pengalaman emosi dan pencerapan kita, dan tidak berbentuk. Ketika tubuh dan batin bersatu, kita hidup, saat kematian, keduanya terpisah. Tubuh menjadi mayat, dan batin berlanjut dengan menempati tubuh lain.
Bagaimana batin kita mulai? Siapa atau apa yang menciptakannya?
Tiap kejadian dari batin adalah kelanjutan dari kejadian sebelumnya: siapa kita dan apa yang kita pikirkan dan rasakan tergantung dari siapa kita kemarin. Batin kita sekarang adalah kelanjutan dari batin kita kemarin. Itulah sebabnya kita dapat mengingat apa yang terjadi pada kita di masa lalu. Satu kejadian dari batin kita disebabkan oleh kejadian sebelumnya dari batin kita. Kelanjutan ini dapat dilacak balik saat kita kecil dan bahkan ke batin kita ketika kita berupa janin di rahim ibu. Bahkan sebelum jadi janin pun, arus batin kita ada: saat sebelumnya bergabung dengan tubuh lain.
Tiada permulaan untuk batin kita. Siapa yang bilang kalau harus ada permulaan? Kelanjutan batin kita tidak terbatas. Ini mungkin konsep yang sulit dimengerti awalnya, namun bila kita gunakan contoh garis bilangan, maka konsep ini lebih mudah. Dari posisi"0", melihat ke kiri, tidak ada bilangan negatif pertama, dan melihat ke kanan tidak ada bilangan terakhir yang tertinggi. Satu yang lebih selalu dapat ditambahkan. Dalam cara yang sama, arus batin kita tiada berawal dan tiada berakhir. Kita semua memiliki jumlah tidak terbatas akan kelahiran masa lalu, dan batin kita akan terus berlanjut tidak terbatas. Tetapi, dengan menyucikan arus batin kita, kita dapat membuat keberadaan kita yang akan datang lebih baik daripada sekarang.
Sesungguhnya, sangat tidak mungkin bagi arus batin kita untuk berawal. Oleh karena tiap kejadian dari batin disebabkan oleh kejadian sebelumnya, jika ada permulaan, maka dapat berarti bahwa kejadian pertama dari batin tidak memiliki penyebab atau disebabkan oleh sesuatu yang lain di luar kejadian sebelumnya dari batin. Kedua alternatif tersebut adalah tidak mungkin, batin hanya dapat diproduksi oleh kejadian sebelumnya dari batin dalam rangkaian yang sama.
Apa yang menghubungkan kehidupan seseorang dengan yang akan datang? Apakah ada roh, atma, aku, atau pribadi nyata yang pergi dari satu kehidupan ke yang lain?
Batin kita memiliki tingkatan kasar dan halus. Rasa kesadaran yang melihat, mendengar, membaui, mencicipi, merasakan sensasi sentuhan, dan kesadaran mental yang kasar, yang selalu sibuk memikirkan ini dan itu, berfungsi sangat aktif ketika kita hidup. Pada saat kematian, mereka berhenti berfungsi dan terserap ke dalam kesadaran mental yang halus. Batin halus ini menunjang benih perbuatan yang telah kita lakukan. Adalah batin halus ini meninggalkan tubuh, masuk ke alam antara (alam bardo) dan akhirnya terlahir kembali di tubuh lain saat "konsepsi", kesadaran indera kasar dan kesadaran mental kasar muncul lagi, dan orang ini melihat, mendengar, berpikir, dll. Batin halus ini, yang pergi dari satu kehidupan ke yang akan datang, adalah fenomena yang berubah terus menerus. Untuk alasan ini, tiada roh, atma, aku, atau pribadi nyata, maka dari itu Sang Buddha mengajarkan doktrin ketanpaakuan.
Bagaimana dunia tercipta?
Sesuatu yang tercipta timbul dari sebab yang mampu memproduksinya. Sesuatu tidak dapat diciptakan dari ketiadaan. Bentuk fisik dunia diproduksi oleh kejadian sebelumnya. Ilmu pengetahuan sedang meneliti ini. Mereka mungkin menemukan bahwa pada awalnya alam semesta kita, ada elemen fisik yang halus yang mana dari itu alam semesta tercipta. Elemen-elemen fisik halus ini, pada gilirannya, adalah kelanjutan dari alam semesta yang muncul sebelum kita. Jadi, kita dapat melacak (kilas balik) kelanjutan dari bentuk ini secara tidak terbatas.
Mengapa kita tidak dapat mengingat kehidupan kita di masa lampau?
Saat ini, batin kita dikaburkan oleh ketidaktahuan, membuat kita sulit mengingat masa lampau. Juga, banyak perubahan terjadi dalam tubuh dan batin kita saat kita meninggal dan lahir kembali, membuat pengingatan kembali menjadi sulit. Tetapi, kenyataan bahwa kita tidak bisa mengingat sesuatu, bukan berarti hal itu tidak ada. Terkadang kita bahkan tidak dapat mengingat dimana kita meletakkan kunci mobil kita! Tidak dapat pula kita mengingat makan malam kita sebulan yang lalu!
Ada orang-orang yang dapat mengingat kehidupan lampaunya. Dalam masyarakat Tibet, ada sistem pengenalan reinkarnasi dari guru dengan realisasi yang tinggi. Kerap kali, sebagai anak kecil, orang-orang ini akan mengenal teman atau barang miliknya di kehidupan sebelumnya. Beberapa orang biasa juga dapat mengingat masa lalunya, mungkin melalui meditasi atau hipnotis.
Apakah penting mengetahui bagaimana kehidupan kita di masa lalu?
Tidak. Yang penting adalah bagaimana kita hidup sekarang. Mengetahui bagaimana kita di masa lalu hanya berguna jika hal itu membantu kita membangkitkan kebulatan tekad yang kuat untuk menghindari perbuatan negatif dan keluar dari perputaran roda samsara. Mencoba mencari tahu siapa kita di masa lalu hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu tidaklah berguna. Hal itu bahkan dapat mendorong kesombongan kita: "Wah saya dulu seorang raja. Saya terkenal dan berbakat. Saya Einstein!" Lalu apa?! Sebenarnya, kita telah pernah menjadi apa saja dan melakukan apa saja di masa lalu di alam samsara ini. Yang penting sekarang adalah kita menyucikan potensi negatif yang kita ciptakan sebelumnya, menghindari menciptakannya lagi, dan mengeluarkan energi untuk menghimpun potensi positif dan mengembangkan kualitas baik kita.
Ada pepatah Tibet: "Jika kamu ingin tahu kehidupanmu yang lalu, lihatlah tubuhmu sekarang. Jika kamu ingin tahu kehidupanmu di masa mendatang, lihatlah batinmu saat ini." Kita menerima kelahiran kembali sekarang sebagai hasil dari perbuatan masa lalu kita. Terlahir sebagai manusia adalah keberuntungan dan penyebabnya diciptakan oleh kita yang menjaga moral dengan baik di masa lalu. Di sisi lain, kelahiran kita mendatang ditentukan oleh perbuatan yang kita lakukan sekarang, dan batinlah yang memotivasi perbuatan kita lainnya. Jadi, dengan melihat sikap kita sekarang dan meneliti apakah bajik atau non-bajik, kita dapat berkesimpulan kelahiran kita nanti seperti apa. Kita tidak perlu pergi ke peramal untuk bertanya jadi apa kita nanti: sederhana saja kita melihat jejak yang kita tinggalkan dalam rangkaian mental oleh perbuatan yang kita lakukan sekarang.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 4 - Berdoa dan Mendedikasikan Potensi Positif



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


BERDOA & MENDEDIKASIKAN POTENSI POSITIF
Mengapa berdoa?Apakah doa dapat dipenuhi?
Ada banyak jenis doa. Beberapa menuntun dan memberi inspirasi bagi batin menuju tujuan tertentu, jadi menciptakan penyebab bagi kita untuk mencapainya. Contohnya adalah berdoa agar lebih toleran dan iba kepada yang lain. Doa lainnya untuk orang atau situasi khusus, seperti berdoa agar penyakit seseorang dapat sembuh. Agar doa-doa dapat dikabulkan tergantung lebih dari sekedar berdoa: penyebab yang tepat harus diciptakan. Jadi tidak sekedar berkata: "Tolonglah, Buddha, buatlah ini dan itu terjadi, tetapi saya akan santai dan minum teh saat kamu kerjakan!"
Contohnya, jika kita berdoa agar lebih penuh cinta kasih dan iba namun tidak berusaha apa-apa untuk mengendalikan amarah kita, kita tidak menciptakan penyebab dari doa itu agar terkabulkan. Transformasi dari batin kita datang dari usaha kita sendiri, dan kita berdoa demi inspirasi Buddha untuk mencapainya. "Menerima berkah dari para Buddha" tidaklah berarti bahwa sesuatu yang nyata datang dari para Buddha dan masuk ke diri kita. Ini berarti batin kita mengalami tranformasi melalui gabungan antara usaha pengajaran dan petunjuk para Buddha dan Bodhisattva dan praktik kita sendiri. Jadi, kita tidak dapat berdoa terlahir di tanah suci dan mengharapkan para Buddha dan Bodhisattva untuk mewujudkan hal itu! Kita juga harus berusaha menerapkan ajaran: kita secara bertahap mengembangkan ketidakmelekatan dari kesenangan duniawi, kita mempraktikkan welas asih semaksimal mungkin, dan kita membangkitkan kebijaksanaan. Nah, berdoa barulah memiliki dampak besar bagi batin kita. Namun, jika kita tidak melakukan apapun untuk memperbaiki kebiasaan buruk badan, ucapan, dan batin, dan jika batin kita kacau selama berdoa, maka hasilnya minimal.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...