Minggu, 06 Mei 2012

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 6 - Karma: Fungsi Dari Sebab & Akibat



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KARMA: FUNGSI DARI SEBAB & AKIBAT
Apa itu karma? Bagaimana karma bekerja?
Karma berarti perbuatan, dan merujuk pada perbuatan yang kita lakukan melalui tubuh, ucapan, dan batin kita. Perbuatan ini meninggalkan jejak atau benih dalam rangkaian mental kita, yang masak ke dalam pengalaman kita ketika kondisi yang tepat datang bersamaan. Benih dari perbuatan kita mengikuti kita dari kehidupan yang satu ke kehidupan yang seterusnya tanpa pernah lepas. Namun, bila kita tidak menciptakan sebab atau karma sesuatu, maka kita tidak menerima hasilnya: jika petani tidak menanam bibit, tiada yang tumbuh. Jika satu perbuatan membawa penderitaan dan kesengsaraan, ia disebut negatif, destruktif, atau non-bajik. Jika perbuatan membawa kebahagiaan maka ia disebut positif, konstruktif, atau bajik. Perbuatan tidak dengan sendirinya baik atau buruk tetapi disebut demikian dilihat dari hasil yang ditimbulkannya.
Fungsi sebab akibat dalam rangkaian mental kita adalah ilmiah. Semua hasil datang dari sebab yang memiliki kemampuan untuk menghasilkannya. Jika anda tanam bibit apel, sebuah pohon apel akan tumbuh, bukan cabe. Jika bibit cabe yang ditanam, cabe akan tumbuh, bukan apel. Dalam cara yang sama jika kita lakukan perbuatan positif, kebahagiaan akan terjadi; jika perbuatan negatif dilakukan, masalah akan muncul. Apapun kebahagiaan dan nasib baik yang kita alami dalam kehidupan kita datang dari perbuatan positif kita. Semua masalah kita datang dari perbuatan destruktif.
Apakah karma atau hukum sebab akibat adalah sistem hukuman dan hadiah? Apakah Sang Buddha menciptakan atau menemukan hukum sebab akibat ini?
Tentu tidak. Tidak ada orang yang memberi hadiah dan hukuman. Kita menciptakan sebab dengan perbuatan kita dan mengalami hasilnya. Kita bertanggung jawab untuk pengalaman kita sendiri. Tidak pula Sang Buddha menciptakan sistem sebab akibat ini, sebagaimana halnya Newton tidak menciptakan gravitasi. Sang Buddha hanya menggambarkan apa yang ia lihat melalui kekuatan batin maha tahuNya menjadi proses alami sebab akibat apa yang terjadi dalam rangkaian mental mahluk hidup. Dengan melakukan ini, ia menunjukkan bagaimana cara terbaik bekerja dalam hukum sebab akibat untuk meraih kebahagiaan yang kita inginkan dan menghindari penderitaan yang tidak kita sukai.
Konsep salah bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah hadiah dan hukuman mungkin datang dari kesalahan terjemahan kitab Buddhis ke dalam bahasa Inggris. Saya telah melihat beberapa teks diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menggunakan istilah dari agama lain. Ini salah arah. Istilah seperti (heaven) "surga," (hell) "neraka," (sin) "dosa," (punishment) "hukuman," (judgement) "peradilan," dan lainnya tidak sepenuhnya menjelaskan konsep Buddhis. Kata yang tepat dalam bahasa Inggris yang mencakup pengertian dari ajaran Buddha seharusnya digunakan.
Apakah hukum sebab akibat hanya berlaku bagi orang yang mempercayainya?
Tidak. Sebab dan akibat berfungsi tidak peduli kita menerimanya atau tidak. Perbuatan positif menghasilkan kebahagiaan dan perbuatan destruktif menghasilkan penderitaan apakah kita percaya atau tidak. Jika sebutir buah jatuh dari pohon, ia jatuh ke bawah meski kita percaya ia akan ke atas. Sangat ajaib bila yang kita butuhkan untuk menghindari hasil perbuatan kita adalah dengan tidak mempercayai hasil itu akan datang! Maka kita dapat makan semua yang kita mau dan tidak pernah gemuk! Seseorang yang tidak percaya pada kehidupan lampau dan sebab akibat dapat mengalami kebahagiaan sebagai hasil dari perbuatannya di masa lalu. Dengan menolak keberadaan hukum sebab akibat, dan seterusnya tidak berusaha untuk mempraktikkan perbuatan konstruktif dan menghindari perbuatan destruktif, orang itu menciptakan sedikit potensi positif dan secara ceroboh menciptakan perbuatan negatif. Di sisi lain, orang yang mengetahui sebab dan akibat akan berusaha dengan penuh kewaspadaan apa yang mereka pikirkan, ucapkan, dan lakukan untuk menghindari menyakiti mahluk lain dan menghindari meninggalkan jejak buruk dalam rangkaian mental mereka.
Mengapa ada beberapa orang yang melakukan perbuatan negatif sukses dan terlihat bahagia? Mengapa beberapa orang yang tidak percaya fungsi sebab dan akibat memiliki kehidupan yang baik?
Ketika kita melihat orang yang tidak jujur memiliki kekayaan, atau orang kejam menerima hormat dan kekuasaan, atau orang baik dirampok atau mati muda, kita mungkin meragukan hukum sebab akibat. Ini karena kita hanya melihat apa yang terjadi dalam periode kehidupan singkat ini. Banyak hasil yang kita alami dalam kehidupan ini hasil dari perbuatan di masa lalu, dan banyak perbuatan yang kita lakukan saat ini akan masak hanya di kehidupan mendatang. Kekayaan orang tidak jujur adalah hasil kedermawanannya dalam kehidupan terdahulu. Ketidakjujuran mereka sekarang meninggalkan benih karma bagi mereka untuk dicurangi dan mengalami kemiskinan di kehidupan mendatang. Sama halnya, kehormatan dan wewenang bagi orang kejam didasarkan pada perbuatan baik yang mereka lakukan di masa lalu. Saat ini, mereka menyalahgunakan kekuasaan, sehingga menciptakan sebab bagi penderitaan yang akan datang. Orang baik yang mati muda mengalami hasil dari perbuatan negatif seperti pembunuhan di kehidupan lalu. Namun, kebaikan mereka sekarang menanam benih atau jejak dalam rangkaian mental untuk kebahagiaan mereka di masa mendatang.
Cara yang pasti perbuatan khusus mana yang matang dan perbuatan tertentu apa yang kita lakukan di masa lalu yang membawa hasil khusus di kehidupan sekarang hanya dapat diketahui secara lengkap oleh batin maha tahu Buddha. Apa yang tercantum di sutra dan tantra mengenai perbuatan tertentu menghasilkan hasil tertentu adalah pedoman umum. Namun, dalam situasi khusus, hal ini bisa beragam sedikit tergantung sebab dan kondisi lainnya. Perbuatan destruktif membawa penderitaan dan perbuatan konstruktif membawa kebahagiaan tidak berubah. Tetapi dalam situasi tertentu dari individu, perbuatan negatif misalnya pembunuhan dapat matang di salah satu kelahiran di alam kehidupan yang rendah. Ini tergantung pada banyak faktor yang dapat membuat perbuatan ini berat atau ringan, seperti halnya kondisi yang ada saat itu ketika bibit karma matang.
Apakah kita mengalami hasil dari semua perbuatan kita?
Ketika bibit, meski kecil, ditanam dalam tanah, bibit akan tumbuh: demikianlah, bibit tidak tumbuh bila tidak menerima kondisi seperti air, cahaya matahari, dan pupuk yang diperlukan bagi pertumbuhan mereka, atau jika ia dibakar atau ditarik keluar dari tanah. Jalan satu-satunya menumbangkan jejak atau bibit karma adalah dengan meditasi pada kekosongan pada keberadaan yang berdiri sendiri. Ini jalan menyucikan emosi-emosi pengganggu dan jejak karma selengkapnya. Pada tingkatan kita, ini cukup sulit, tetapi kita masih dapat menghentikan jejak berbahaya masak dengan melakukan penyucian. Ini serupa dengan menahan bibit dari menerima air, cahaya matahari, dan pupuk.
Bagaimana kita menyucikan jejak negatif?
Penyucian dengan bantuan empat kekuatan penawar adalah sangat penting. Ia tidak hanya mencegah penderitaan mendatang, tetapi juga mengurangi perasaan bersalah atau beban berat yang kita alami sekarang. Dengan membersihkan batin kita, kita dapat mengerti Dharma dengan lebih baik, dan kita menjadi lebih damai dan berkonsentrasi lebih baik. Empat kekuatan penawar digunakan untuk menyucikan jejak atau bibit negatif adalah:
1. penyesalan
2. kebulatan tekad untuk tidak melakukan perbuatan itu lagi
3. mengambil perlindungan dan membangkitkan sikap
mementingkan orang lain
4. praktik perbaikan yang nyata
Pertama, kita mengakui dan menyesal melakukan perbuatan destruktif. Penyalahan diri dan rasa bersalah tidak cukup berguna dan hanya menganiaya diri sendiri secara emosi. Dengan penyesalan yang tulus, di sisi lain, kita mengakui telah membuat kesalahan dan menyesal melakukannya.
Kedua, kita berbulat tekad tidak melakukan perbuatan itu lagi. Jika perbuatan itu biasa dan sering kali kita lakukan, seperti mengkritik orang lain, munafik berkata kita tidak akan pernah melakukannya lagi seumur hidup. Lebih baik memilih jumlah waktu yang realistik dan bertekad kita akan mencoba tidak mengulangi perbuatan itu, tetapi terutama lebih waspada dan berusaha selama batas waktu tersebut.
Kekuatan ketiga adalah perlindungan. Perbuatan destruktif kita secara umum berhubungan dengan objek suci seperti Buddha, Dharma, dan Sangha, atau mahluk lain. Untuk membangun kembali hubungan baik dengan mahluk suci kita bertumpu pada mereka dengan mengambil perlindungan atau mencari arahan dari mereka. Untuk memiliki hubungan baik dengan mahluk lain kita membangkitkan sikap mementingkan orang lain sehingga kita dedikasikan hati kita menjadi Buddha agar dapat bermanfaat bagi mereka dengan cara terbaik.
Elemen keempat adalah melakukan perbuatan perbaikan. Ini bisa apapun perbuatan baik: mendengarkan ceramah, membaca buku Dharma, bersujud, melakukan persembahan, melafal nama para Buddha, membaca mantra, membuat patung atau gambar Buddha, menerbitkan buku Dharma, meditasi, dan lain-lain. Perbuatan perbaikan yang paling kuat adalah meditasi atas kekosongan.
Empat kekuatan penawar ini harus dilakukan berulang kali. Kita telah melakukan perbuatan negatif banyak kali, jadi wajar kita tidak berharap melawan mereka seketika. Semakin kuat empat kekuatan penawar – semakin kuat penyesalan kita, semakin teguh kebulatan tekad kita untuk tidak melakukan perbuatan itu lagi, dan seterusnya – semakin kuatlah penyucian itu. Sangat baik melakukan penyucian dengan empat kekuatan penawar itu tiap malam menjelang tidur guna melawan perbuatan destruktif yang kita lakukan sepanjang hari.
Jika orang menderita karena perbuatan negatif mereka sendiri, apakah hal ini berarti bahwa kita tidak dapat atau tidak seharusnya melakukan apapun untuk membantu mereka?
Tidak sepenuhnya demikian! Kita tahu bagaimana rasanya kesengsaraan, dan apa yang pasti orang lain rasakan karena mengalami akibat perbuatan destruktif mereka. Dengan empati dan welas asih, kita seharusnya membantu! Kesulitan orang itu disebabkan oleh perbuatannya sendiri, tapi tidak berarti kita diam saja dan santai berkata, "Oh, malangnya. Kasihan deh lu. Kamu seharusnya tidak lakukan perbuatan non-bajik itu."
Jangan memikirkan karma dengan cara kaku. Ya, orang itu menciptakan sebab mengalami kesulitan oleh perbuatannya sendiri, namun demikian ia juga mungkin menciptakan sebab menerima bantuan kita! Tetapi lebih dari itu, kita semua tahu apa yang akan kita rasakan bila berada dalam situasi mengerikan tersebut. Kita semua sama-sama menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Tidak jadi masalah penderitaan atau masalah siapa, penderitaan harus dihilangkan. Berpikir, "orang miskin jadi miskin karena kepelitan masa lalu mereka. Saya akan mencampuri proses alamiah sebab akibat jika coba membantu," adalah konsep yang salah sepenuhnya. Kita tidak seharusnya mencoba mencari alasan kemalasan atau kelesuan atau kemelekatan kita pada posisi lebih superior dengan salah menginterpretasikan sebab dan akibat. Perasaan welas asih dan tanggung jawab universal penting bagi pengembangan spiritual kita sendiri dan bagi perdamaian dunia.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 5 - Kelahiran Kembali Vs Penciptaan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


KELAHIRAN KEMBALI vs PENCIPTAAN
Apa itu kelahiran kembali?
Kelahiran kembali berkaitan dengan batin seseorang yang mengambil tubuh yang baru. Tubuh dan batin kita adalah dua hal terpisah: tubuh adalah zat dan terbuat dari atom. Batin berarti semua pengalaman emosi dan pencerapan kita, dan tidak berbentuk. Ketika tubuh dan batin bersatu, kita hidup, saat kematian, keduanya terpisah. Tubuh menjadi mayat, dan batin berlanjut dengan menempati tubuh lain.
Bagaimana batin kita mulai? Siapa atau apa yang menciptakannya?
Tiap kejadian dari batin adalah kelanjutan dari kejadian sebelumnya: siapa kita dan apa yang kita pikirkan dan rasakan tergantung dari siapa kita kemarin. Batin kita sekarang adalah kelanjutan dari batin kita kemarin. Itulah sebabnya kita dapat mengingat apa yang terjadi pada kita di masa lalu. Satu kejadian dari batin kita disebabkan oleh kejadian sebelumnya dari batin kita. Kelanjutan ini dapat dilacak balik saat kita kecil dan bahkan ke batin kita ketika kita berupa janin di rahim ibu. Bahkan sebelum jadi janin pun, arus batin kita ada: saat sebelumnya bergabung dengan tubuh lain.
Tiada permulaan untuk batin kita. Siapa yang bilang kalau harus ada permulaan? Kelanjutan batin kita tidak terbatas. Ini mungkin konsep yang sulit dimengerti awalnya, namun bila kita gunakan contoh garis bilangan, maka konsep ini lebih mudah. Dari posisi"0", melihat ke kiri, tidak ada bilangan negatif pertama, dan melihat ke kanan tidak ada bilangan terakhir yang tertinggi. Satu yang lebih selalu dapat ditambahkan. Dalam cara yang sama, arus batin kita tiada berawal dan tiada berakhir. Kita semua memiliki jumlah tidak terbatas akan kelahiran masa lalu, dan batin kita akan terus berlanjut tidak terbatas. Tetapi, dengan menyucikan arus batin kita, kita dapat membuat keberadaan kita yang akan datang lebih baik daripada sekarang.
Sesungguhnya, sangat tidak mungkin bagi arus batin kita untuk berawal. Oleh karena tiap kejadian dari batin disebabkan oleh kejadian sebelumnya, jika ada permulaan, maka dapat berarti bahwa kejadian pertama dari batin tidak memiliki penyebab atau disebabkan oleh sesuatu yang lain di luar kejadian sebelumnya dari batin. Kedua alternatif tersebut adalah tidak mungkin, batin hanya dapat diproduksi oleh kejadian sebelumnya dari batin dalam rangkaian yang sama.
Apa yang menghubungkan kehidupan seseorang dengan yang akan datang? Apakah ada roh, atma, aku, atau pribadi nyata yang pergi dari satu kehidupan ke yang lain?
Batin kita memiliki tingkatan kasar dan halus. Rasa kesadaran yang melihat, mendengar, membaui, mencicipi, merasakan sensasi sentuhan, dan kesadaran mental yang kasar, yang selalu sibuk memikirkan ini dan itu, berfungsi sangat aktif ketika kita hidup. Pada saat kematian, mereka berhenti berfungsi dan terserap ke dalam kesadaran mental yang halus. Batin halus ini menunjang benih perbuatan yang telah kita lakukan. Adalah batin halus ini meninggalkan tubuh, masuk ke alam antara (alam bardo) dan akhirnya terlahir kembali di tubuh lain saat "konsepsi", kesadaran indera kasar dan kesadaran mental kasar muncul lagi, dan orang ini melihat, mendengar, berpikir, dll. Batin halus ini, yang pergi dari satu kehidupan ke yang akan datang, adalah fenomena yang berubah terus menerus. Untuk alasan ini, tiada roh, atma, aku, atau pribadi nyata, maka dari itu Sang Buddha mengajarkan doktrin ketanpaakuan.
Bagaimana dunia tercipta?
Sesuatu yang tercipta timbul dari sebab yang mampu memproduksinya. Sesuatu tidak dapat diciptakan dari ketiadaan. Bentuk fisik dunia diproduksi oleh kejadian sebelumnya. Ilmu pengetahuan sedang meneliti ini. Mereka mungkin menemukan bahwa pada awalnya alam semesta kita, ada elemen fisik yang halus yang mana dari itu alam semesta tercipta. Elemen-elemen fisik halus ini, pada gilirannya, adalah kelanjutan dari alam semesta yang muncul sebelum kita. Jadi, kita dapat melacak (kilas balik) kelanjutan dari bentuk ini secara tidak terbatas.
Mengapa kita tidak dapat mengingat kehidupan kita di masa lampau?
Saat ini, batin kita dikaburkan oleh ketidaktahuan, membuat kita sulit mengingat masa lampau. Juga, banyak perubahan terjadi dalam tubuh dan batin kita saat kita meninggal dan lahir kembali, membuat pengingatan kembali menjadi sulit. Tetapi, kenyataan bahwa kita tidak bisa mengingat sesuatu, bukan berarti hal itu tidak ada. Terkadang kita bahkan tidak dapat mengingat dimana kita meletakkan kunci mobil kita! Tidak dapat pula kita mengingat makan malam kita sebulan yang lalu!
Ada orang-orang yang dapat mengingat kehidupan lampaunya. Dalam masyarakat Tibet, ada sistem pengenalan reinkarnasi dari guru dengan realisasi yang tinggi. Kerap kali, sebagai anak kecil, orang-orang ini akan mengenal teman atau barang miliknya di kehidupan sebelumnya. Beberapa orang biasa juga dapat mengingat masa lalunya, mungkin melalui meditasi atau hipnotis.
Apakah penting mengetahui bagaimana kehidupan kita di masa lalu?
Tidak. Yang penting adalah bagaimana kita hidup sekarang. Mengetahui bagaimana kita di masa lalu hanya berguna jika hal itu membantu kita membangkitkan kebulatan tekad yang kuat untuk menghindari perbuatan negatif dan keluar dari perputaran roda samsara. Mencoba mencari tahu siapa kita di masa lalu hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu tidaklah berguna. Hal itu bahkan dapat mendorong kesombongan kita: "Wah saya dulu seorang raja. Saya terkenal dan berbakat. Saya Einstein!" Lalu apa?! Sebenarnya, kita telah pernah menjadi apa saja dan melakukan apa saja di masa lalu di alam samsara ini. Yang penting sekarang adalah kita menyucikan potensi negatif yang kita ciptakan sebelumnya, menghindari menciptakannya lagi, dan mengeluarkan energi untuk menghimpun potensi positif dan mengembangkan kualitas baik kita.
Ada pepatah Tibet: "Jika kamu ingin tahu kehidupanmu yang lalu, lihatlah tubuhmu sekarang. Jika kamu ingin tahu kehidupanmu di masa mendatang, lihatlah batinmu saat ini." Kita menerima kelahiran kembali sekarang sebagai hasil dari perbuatan masa lalu kita. Terlahir sebagai manusia adalah keberuntungan dan penyebabnya diciptakan oleh kita yang menjaga moral dengan baik di masa lalu. Di sisi lain, kelahiran kita mendatang ditentukan oleh perbuatan yang kita lakukan sekarang, dan batinlah yang memotivasi perbuatan kita lainnya. Jadi, dengan melihat sikap kita sekarang dan meneliti apakah bajik atau non-bajik, kita dapat berkesimpulan kelahiran kita nanti seperti apa. Kita tidak perlu pergi ke peramal untuk bertanya jadi apa kita nanti: sederhana saja kita melihat jejak yang kita tinggalkan dalam rangkaian mental oleh perbuatan yang kita lakukan sekarang.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 4 - Berdoa dan Mendedikasikan Potensi Positif



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


BERDOA & MENDEDIKASIKAN POTENSI POSITIF
Mengapa berdoa?Apakah doa dapat dipenuhi?
Ada banyak jenis doa. Beberapa menuntun dan memberi inspirasi bagi batin menuju tujuan tertentu, jadi menciptakan penyebab bagi kita untuk mencapainya. Contohnya adalah berdoa agar lebih toleran dan iba kepada yang lain. Doa lainnya untuk orang atau situasi khusus, seperti berdoa agar penyakit seseorang dapat sembuh. Agar doa-doa dapat dikabulkan tergantung lebih dari sekedar berdoa: penyebab yang tepat harus diciptakan. Jadi tidak sekedar berkata: "Tolonglah, Buddha, buatlah ini dan itu terjadi, tetapi saya akan santai dan minum teh saat kamu kerjakan!"
Contohnya, jika kita berdoa agar lebih penuh cinta kasih dan iba namun tidak berusaha apa-apa untuk mengendalikan amarah kita, kita tidak menciptakan penyebab dari doa itu agar terkabulkan. Transformasi dari batin kita datang dari usaha kita sendiri, dan kita berdoa demi inspirasi Buddha untuk mencapainya. "Menerima berkah dari para Buddha" tidaklah berarti bahwa sesuatu yang nyata datang dari para Buddha dan masuk ke diri kita. Ini berarti batin kita mengalami tranformasi melalui gabungan antara usaha pengajaran dan petunjuk para Buddha dan Bodhisattva dan praktik kita sendiri. Jadi, kita tidak dapat berdoa terlahir di tanah suci dan mengharapkan para Buddha dan Bodhisattva untuk mewujudkan hal itu! Kita juga harus berusaha menerapkan ajaran: kita secara bertahap mengembangkan ketidakmelekatan dari kesenangan duniawi, kita mempraktikkan welas asih semaksimal mungkin, dan kita membangkitkan kebijaksanaan. Nah, berdoa barulah memiliki dampak besar bagi batin kita. Namun, jika kita tidak melakukan apapun untuk memperbaiki kebiasaan buruk badan, ucapan, dan batin, dan jika batin kita kacau selama berdoa, maka hasilnya minimal.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 3 - Berhala & Persembahan



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


BERHALA & PERSEMBAHAN

Apakah umat Buddha menyembahyangi berhala?
Tidak sama sekali! Sebungkah tanah liat atau perunggu atau giok bukanlah objek dari penghormatan dan doa kita. Ketika kita bersujud di hadapan gambar Buddha, kita mengingat kualitas dari mahluk yang tercerahkan. Adalah cinta kasih tak terbatas dan welas asih, kedermawananan, moralitas, kesabaran, usaha yang penuh kegembiraan, konsentrasi dan kebijaksanaan mereka yang kita hormati. Patung atau lukisan, mengingatkan kita akan kualitas, bukannya tanah liat, yang kita sujudkan. Kita tidak butuh sebuah patung di depan kita untuk bersujud atau menghormat pada para Buddha dan kualitas mereka.
Misalnya, jika kita bepergian ke suatu tempat yang jauh dari keluarga, kita memikirkan mereka dan merasakan cinta kasih yang besar. Tetapi kita juga senang memiliki foto mereka untuk mengingatnya dengan lebih baik. Ketika kita melihat ke foto dan merasa cinta pada keluarga kita, kita tidak mencintai kertas dan tinta dari foto! Foto hanyalah memperkuat memori kita. Serupa dengan patung atau gambar Sang Buddha.
Dengan memperlihatkan rasa hormat pada para Buddha dan kualitas mereka, kita terinspirasi untuk mengembangkan kualitas luar biasa mereka pada arus batin kita. Kita menjadi seperti orang yang kita hormati. Ketika kita mengambil contoh kebaikan cinta kasih dan kebijaksanaan para Buddha, kita berusaha keras untuk menjadi seperti mereka.

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 2 - Sang Buddha



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


SANG BUDDHA
Siapa itu Sang Buddha? Jika beliau hanya seorang manusia, bagaimana beliau membantu kita?
Ada banyak cara menggambarkan siapakah Sang Buddha itu, menurut berbagai cara memahaminya. Interpretasi yang berbeda-beda ini bersumberkan pada ajaran Sang Buddha. Satu cara adalah dengan melihat Buddha historis yang hidup 2500 tahun silam sebagai manusia yang menyucikan batinnya dari noda-noda dan membangun semua potensinya. Mahluk apapun juga yang melakukan hal serupa juga dianggap seorang Buddha, jadi ada banyak Buddha bukan hanya satu. Cara lain untuk memahami Buddha tertentu atau mahluk-mahluk suci Buddhis adalah sebagai batin maha tahu dimanifestasikan dalam aspek fisik tertentu dengan tujuan berkomunikasi dengan kita. Masih ada cara lain melihat Sang Buddha - atau mahluk suci Buddhis yang mencapai pencerahan – sebagai pemunculan Buddha yang akan datang yang mana kita akan menjadi Buddha ketika kita dengan tepat dan sepenuhnya menempuh jalan menyucikan batin dari noda-noda dan membangun semua potensi kita. Mari kita teliti masing-masing cara ini secara lebih mendalam…

Mengapa Begini Mengapa Begitu - Ven Thubten Chodron (English Version: I Wonder Why) - Part 1 - Intisari Buddhisme & Tradisi Buddhis



Anumodana Penerjemah : Tim Sekber PMVBI (Sdr. Amri, S.E.)


INTISARI BUDDHISME & TRADISI BUDDHIS

Secara sederhana yaitu menghindari menyakiti orang lain dan menolong mereka sebisa mungkin. Cara lain mengemukakan ini adalah, "menghindari perbuatan negatif, melakukan kebajikan sempurna, mengendalikan batin kita. Inilah ajaran Sang Buddha." Dengan menghindari perbuatan negatif (membunuh, dll) dan motivasi-motivasi yang menghancurkan (kemarahan, kemelekatan, kepicikan, dll), kita berhenti menyakiti diri sendiri dan orang lain. Dengan melakukan kebajikan sempurna, kita mengembangkan sikap yang bermanfaat, seperti cinta kasih dan welas asih universal, dan melakukan perbuatan yang dimotivasi oleh pikiran semacam ini. Dengan mengendalikan batin, kita membuang semua pandangan yang salah, sehingga membuat kita tenang dan damai dengan memahami kenyataan.
Intisari ajaran Sang Buddha juga terkandung pada tiga prinsip sang jalan: penolakan terhadap samsara, hati yang berdedikasi (bodhicitta), dan kebijaksanaan merealisasi kesunyataan. Awalnya, kita mencari tahu sesuatu yang muncul dari kebingungan masalah kita dan penyebabnya. Kemudian, kita melihat bahwa orang lain juga punya masalah, dan dengan cinta kasih dan welas asih, kita dedikasikan hati kita untuk menjadi Buddha sehingga kita mampu menolong yang lain secara luas. Untuk mewujudkan ini, kita mengembangkan kebijaksanaan memahami sifat yang alami dari kita dan fenomena lain.

Open Heart, Clear Mind - Ven Thubten Chodron



Ven. Thubten Chodron adalah seorang bikkhusuni yang dilahirkan di California tahun 1950 dalam keluarga Yahudi. Ven. Thubten Chodron juga merupakan murid dari HH Dalai Lama 14, Tsenzhap Serkong Rinpoche, Thubten Zopa Rinpoche.


Tahun 1971, beliau yang guru SD sekaligus mahasiswi ini mendapat gelar BA dalam bidang Sejarah dari University of California, Los Angeles. Tahun 1975 dalam kunjungan Lama Yeshe dan Lama Zopa ke Amerika, beliau tertarik mengikuti kursus agama Buddha dari kedua lama (biksu) ini. Ketertarikannya belanjut dengan belajar dan mempraktekkan tradisi Tibet di Nepal. Tahun 1977, beliau memutuskan menjadi samaneri, kemudian menerima pentahbisan secara penuh sebagai biksuni pada tahun 1986, di Taiwan.

“Ven. Chodron dikenal oleh upaya dan karyanya dalam membangun kembali silsilah bhiksuni, mengembangkan dialog lintas agama, membuat kelas Dharma di penjara dan mengajarkan Dharma ke punjuru dunia. Ajaran-ajaran beliau menekankan agama Buddha yang praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau dikenal dan dihargai karena membuat agama Buddha menjadi sangat mudah dipahami dan dipraktikkan oleh orang Barat”

Merupakan kebahagiaan bagi kita, bahwa di tengah kesibukannya sebagai kepala wihara Sravasti Abbey di Newport, Washington, beliau bersedia datang ke Indonesia. Tidak lupa, beliau akan datang ke Kota Pahlawan (Surabaya) untuk berbagi Dharma demi kebahagiaan semua makhluk.

"Open Heart, Clear Mind"
Rabu, 9 Mei 2012, Pk. 18.00 - Selesai
Vihara Buddhayana Surabaya
Jl. Putat Gede No. 1, Surabaya



by: Elwin Zhang (Imabi Jatim)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...